Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

 

 Sejarah : Kretek 1

 

Kini sebagian pabrik dari masa baheula itu sudah tutup. Ada yang masih hidup, dengan kapasitas produksi kecil. Tercatat pula nama para pendiri pabrik rokok yang hingga kini pabriknya berkembang pesat, misalnya H.A. Ma'roef (Djamboe Bol), Kuo Djee Siong (Nojorono), Mc. Wartono (Sukun), dan Oei Wie Gwan (Djarum). Para juragan inilah yang -boleh dibilang- "membangkitkan" rokok menjadi industri massal. Namun, tak berarti daerah lain tak mengenal "puntung berasap" itu.

Di Deli, Sumatera Utara, misalnya, rokok sudah menjadi komoditas ketika tembakau mulai ditanam pertama kali oleh Nienhuys, seorang berkebangsaan Belanda, pada 1864. Lima tahun kemudian berdiri Deli Maatschappij, yang mengelola tembakau. Di Magelang, Solo, dan Yogyakarta, industri rokok didominasi jenis rokok yang disebut nipah dan wangen, yang lalu digeser oleh rokok klembak, kombinasi tembakau, cengkeh, dan kemenyan. Sedangkan di Jawa Timur, industri rokok dimulai dari rumah tangga, oleh sebuah badan usaha yang kelak dikenal sebagai PT HM Sampoerna, pada 1910.

Lain halnya di Jawa Barat. Pasaran rokok di daerah ini dirintis oleh "rokok kawung", karena pembungkus tembakaunya terbuat dari daun pohon kawung (aren), dan kelobot (dibungkus daun jagung). Pertama kali muncul di Bandung pada 1905, kemudian menular ke Garut, Tasikmalaya, dan seterusnya. Roro Mendut & Pranacitra INDUSTRI rokok di Jawa Barat mulai meredup oleh ekspansi rokok kretek dari Kudus, yang menyusup lewat Majalengka, menjelang 1930. Tapi, tak lama setelah itu, muncul lagi pabrik rokok kawung di daerah Ciledug Wetan.

Pemerintah kolonial Belanda lalu tak kalah gesit. Pada 1925, berdirilah di Cirebon PT BAT (British American Tobacco), khusus memproduksi rokok putih. Konsumennya terutama para Olanda dan kaum pangreh praja, pejabat pribumi masa itu. Sejak ditemukannya mesin pelinting, industri rokok melaju drastis. Adalah PT Bentoel, Malang, Jawa Timur, yang pertama menempuh mesinisasi, pada 1968. Dengan menggunakan mesin modifikasi pabrik "Molin" di Inggris, Bentoel saat itu berhasil memproduksi 6.000 batang rokok per menit. Jumlah itu, menurut catatan Satuan Tugas Industri Rokok (STIR) dalam bukunya, Industri Hasil Tembakau - Tantangan Dan Peluang (1993), menghemat lebih dari tujuh jam kerja bila dibandingkan dengan penggunaan tenaga manusia. Mesinisasi disusul oleh PT Gudang Garam (Kediri), dan PT HM Sampoerna. Kudus tak mau ketinggalan, lewat mesinisasi yang ditempuh oleh PT Djarum, Djamboe Bol, Nojorono, dan Sukun.

| | | Back | | |


Copyright by Agus Lilik Setiawan, September 2000
Contact webmaster : web_lesson@yahoo.com

 
Ruang Pertama
Apa kata mereka
Seputar Kota
Tajuk Berita
Ruang Kedua
Sejarah
Menara Kudus
Ciri Khas
Ruang Ketiga
Bisnis Dan Usaha
Layanan
Pariwisata
Ruang Keempat
Dunia Pendidikan
Ruang Lima
Daftar Alamat
Buku Tamu
Komentar Anda