Sejarah : Kretek 2

 

Begitulah. Hampir tak terbayangkan dulu-dulunya, apalagi bila legenda rokok ini dirujukkan dengan kisah percintaan Roro Mendut dan Pranacitra, dengan setting Mataram di bawah Sultan Agung (1613-1645). Alkisah, adalah kekecewaan seorang panglima perang Mataram, Tumenggung Wiraguna, yang ditolak cintanya oleh Mendut. Sebagai pembalas sakit hati, Wiraguna, yang tua bangka itu, membebani Mendut dengan pajak tiga real sehari. Toh, gadis rampasan perang itu menyanggupinya. Ia pun buka usaha home industry rokok. Produksi Mendut dibanjiri peminat, terutama para lelaki. Promosi Mendut juga tak kepalang tanggung. Ia bersedia menyulut, sekaligus mengisap -atau lebih tepat mengulum- batang rokok yang dibeli konsumennya. Makin lama rokok dikulum di bibir Mendut, makin mahal pula harganya. Dari produksi dan "servis" itulah Mendut membayar pajaknya. Di antara pencinta "brand" Mendut, terdapatlah Pranacitra. Pasangan itu kemudian berpacaran, menimbulkan murka Wiraguna. Begitu rupa, hingga Pranacitra dibunuh, dan Mendut ikut ber-suicide. Tamat.

Namun, jika dramasmara (drama asmara) Mendut-Pranacitra direntangkan dalam sejarah perokokan, terutama ketetapan waktunya, terlihatlah bahwa rokok sudah lama menjadi kebutuhan para bangsawan Jawa. Sultan Agung & Haji Djamari DALAM buku Rokok Kretek -Lintasan Sejarah dan Artinya Bagi Pembangunan Bangsa dan Negara (1987), yang ditulis oleh Onghokham dan Amen Budiman, dan disponsori PT Djarum Kudus, disebutkan bahwa Raja Mataram, Sultan Agung, adalah perokok berat.

Buku ini mengutip keterangan Dr. H. De Haen, seorang utusan VOC yang menemui Sultan Agung pada 1622 dan 1623. Selama pertemuan-pertemuan itu, konon, Sultan Agung merokok dengan menggunakan pipa berlapis perak. Dalam catatan Thomas Stamford Raffles, The History of Java (1817), pada sekitar 1600 rokok telah menjadi kebutuhan hidup kaum pribumi Indonesia, khususnya Jawa. Meskipun tembakau bukan tanaman asli di Jawa. Naskah Jawa, Babad Ing Sangkala (1601-1602), menyuratkan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa bersama wafatnya Panembahan Senapati, pendiri Dinasti Mataram. Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata, sawoyose milaning wong ngaudud (Waktu Panembahan wafat di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau, setelah itu mulailah orang merokok).

Berbeda dengan Sultan Agung, rakyat jelata masa itu tidak menggunakan pipa. Cukup dilinting sendiri, kemudian dicampuri cengkeh. Istilahnya "tingwe", alias ngelinting dewe, ya melinting sendiri itu tadi. Menurut catatan Solichin Salam dalam bukunya, Kudus Dan Sejarah Rokok Kretek (1983), yang diterbitkan oleh Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK), untuk merokok orang sudah berusaha mencampur tembakau dengan berbagai rempah, seperti cengkeh, damar, atau akar-akar wangi. Demam merokok makin mewabah ketika beredar kabar, kebiasaan itu ternyata bisa menyembuhkan sakit bengek, atau sesak napas.

| | | Back | | |
| | | Next | | |

Copyright by Agus Lilik Setiawan, September 2000
Contact webmaster : web_lesson@yahoo.com

 
Ruang Pertama
Apa kata mereka
Seputar Kota
Tajuk Berita
Ruang Kedua
Sejarah
Menara Kudus
Ciri Khas
Ruang Ketiga
Bisnis Dan Usaha
Layanan
Pariwisata
Ruang Keempat
Dunia Pendidikan
Ruang Lima
Daftar Alamat
Buku Tamu
Komentar Anda