Sejarah : Kretek 3

 

Adalah Haji Djamari, penduduk Kudus yang menderita sakit di bagian dadanya. Untuk mengobati penyakit ini, ia mencoba menggosok bagian dada dan pinggang dengan minyak cengkeh. Rasa sakitnya berkurang. Pak Haji kemudian memperluas percobaannya. Ia pun merajang cengkeh sampai halus, kemudian dicampurkan dengan tembakau, dan dibungkus daun jagung. Dengan cara mengisap asapnya, ternyata penyakit dadanya berangsur-angsur sembuh. Naluri bisnis Haji Djamari pun terpantik. Ia mulai memproduksi "rokok obat" itu secara rumah tangga, dan laku. Produksinya saat itu dikenal dengan sebutan "rokok cengkeh". Lambat laun, sebutan itu berganti menjadi "rokok kretek". Asal mulanya, konon, karena rokok ini, setelah dinyalakan, lalu berbunyi berkemeretekan. Haji Djamari wafat pada 1890. Diperkirakan, kiprahnya memproduksi rokok kretek itu antara 1870 dan 1880. Sejak saat itulah, rokok kretek menjadi barang dagangan yang laris di Kudus, meski anak cucu Haji Djamari tak ada yang tumbuh sebagai industrialis rokok.

Kodok Mangan Ulo MENURUT Solichin Salam, setelah Haji Djamari, pada akhir abad ke-19, muncullah di Kudus pengusaha rokok seperti Haji Ilyas dan Haji Abdul Rasul. Tetapi pendapat ini kurang disetujui oleh H. Firman Lesmana S. Nitisemito, 50 tahun. Firman adalah salah seorang cucu "raja" rokok kretek Kudus, Nitisemito. Menurut Firman, Haji Djamari lebih cocok disebut sebagai penemu rokok di Kudus. "Tapi, sebagai pelopor industri rokok di Kudus, saya yakin Nitisemito," katanya. Nama Nitisemito memang sulit dilepaskan dari sejarah rokok di Jawa. Anak Lurah Jagalan, Kudus Kulon, ini lahir pada 1863 dengan nama Roesdi.

Oleh ayahnya, H. Soelaiman, Roesdi sebetulnya diharapkan menggantikan kedudukannya sebagai lurah. Ternyata Roesdi lebih suka berwirausaha. Setelah menikah dengan Nasilah, Roesdi mengganti namanya dengan Nitisemito. Menurut buku Raja Kretek Nitisemito (1980), yang ditulis Drs. Alex S. Nitisemito, sebelum menjadi juragan rokok, Nitisemito berganti-ganti usaha. Mulai tukang jahit, blantik alias pialang jual beli kerbau, jagal kerbau, rental dokar, dan nah: jual-beli tembakau.

Semua usaha itu tak membuatnya puas. Pada sekitar 1906, Nitisemito memberanikan diri memproduksi rokok. Semula diberi merek Kodok Mangan Ulo, artinya "Katak Makan Ular". Aneh memang, sebab yang normal adalah ular makan kodok. Mungkin saking ganjilnya, merek ini kemudian diganti "Bal Tiga". Perintisan ini dibantu dua putrinya, Nafiah dan Nahari. Selang delapan tahun, Nitisemito sudah menjadi pengusaha rokok raksasa. Walau tak pernah "makan sekolahan", bahkan nyaris buta huruf, Nitisemito menjalankan manajemen perusahaannya secara modern, untuk ukuran masa itu. Ia sudah menggunakan mobil untuk pemasaran.

Agen-agen marketing dibuka di berbagai kota besar: Solo, Semarang, Bandung, Jakarta, Surabaya, bahkan Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Untuk berpromosi, Nitisemito menyediakan cenderamata semacam cangkir, piring, dan gelas. Ada pula hadiah mobil untuk diundi. Caranya mudah. Hanya dengan menukarkan bungkus rokok "Bal Tiga" dengan nomor undian. Yang agak gila-gilaan, Nitisemito pernah berpromosi dengan menyebarkan brosur dari pesawat terbang. Hampir di setiap masjid besar di kota-kota besar terpajang jam dinding hadiah dari Nitisemito.

| | | Back | | |
| | | Next | | |

Copyright by Agus Lilik Setiawan, September 2000
Contact webmaster : web_lesson@yahoo.com

 
Ruang Pertama
Apa kata mereka
Seputar Kota
Tajuk Berita
Ruang Kedua
Sejarah
Menara Kudus
Ciri Khas
Ruang Ketiga
Bisnis Dan Usaha
Layanan
Pariwisata
Ruang Keempat
Dunia Pendidikan
Ruang Lima
Daftar Alamat
Buku Tamu
Komentar Anda