Sejarah : Kretek 4

 

Kamar Tidur Berlantai Emas RADIO dan perkumpulan tonil keliling juga dijadikan sarana iklan. Apalagi semua penjual es di Kota Kudus. "Pak Niti", demikian sebutannya pada masa itu, sudah punya pabrik rokok di atas lahan enam hektare di Desa Jati Kudus, dengan sekitar 15.000 tenaga kerja. Tentang kekayaannya itu, sampai beredar cerita dari mulut ke mulut bahwa kamar tidurnya berlantaikan uang emas dinar yang ditata miring. Ada seorang karyawannya yang mendapat perhatian khusus dari Pak Niti. Namanya Karmaen. Orang ini dinilainya punya bakat sebagai pengusaha. Maka, Karmaen dipercaya menjalankan usaha, bahkan dinikahkan dengan putrinya, Nafiah. Kepercayaannya terhadap Karmaen begitu besar, sampai bungkus rokok produksinya kemudian mencantumkan "Bal Tiga Nitisemito-Karmaen".

Menyusul Nitisemito, lalu muncullah para "raja" kretek lain seperti M. Sirin (Garbis), H.M. Muslich (Teboe & Djagoeng), M. Atmowidjojo (Goenoeng Kedoe), bersambung dengan Noorchamid, H. Nawawi, H. Ashadi, H. Rusjdi, dan H.A. Ma'roef. Namun, melimpahnya harta para juragan rokok itu tak membuat martabat mereka terangkat di depan penguasa. Bila menghadap bupati, misalnya, mereka tetap harus bersimpuh di lantai. Lalu muncullah persaingan yang makin ketat. Terutama ketika para pengusaha keturunan Cina mulai terjun ke industri rokok kretek. Puncaknya terjadi pada 31 Oktober 1918, dalam bentuk perusakan terhadap beberapa pabrik. Tapi, sebagai akibatnya, pengusaha rokok pribumi juga ikut surut, kemudian bangkrut (baca: Bukan Lagi Yang Terbesar). Toh, Nitisemito masih bisa berjaya.

Sayang, selagi Nitisemito masih hidup, timbullah konflik internal di kalangan keluarganya sendiri. Dari perselisihan keluarga itu, akhirnya Pemerintah Hindia Belanda mengetahui adanya pembukuan ganda di "Bal Tiga". Pemerintah Hindia Belanda menuduh Nitisemito menggelapkan pajak. Akibatnya, pabrik, rumah, dan mobilnya disita. Tapi, mengingat usaha Nitisemito menampung banyak tenaga kerja, ia diizinkan lagi menerusakan usahanya, sambil mengangsur tunggakan pajaknya. "Ya, memang penyebabnya adalah perselisihan keluarga," kata Firman Lesmana. Firman tampak menyesalkan kehadiran "orang luar" yang sangat dipercayai kakeknya. Orang luar itu adalah Karmaen.

Semasa pendudukan Jepang, sebenarnya Nitisemito diminta menjalankan pabriknya lagi. Tapi, pada 1947, pabrik itu pun macet. Sampai akhirnya Nitisemito wafat, pada 1953. Tahun itu pulalah pabriknya resmi ditutup. Sebenarnya, kata Firman, anak Nitisemito yang bernama H. Soemadji pernah meneruskan usaha sang ayah pada 1962. Namun, hanya jalan sekitar tiga tahun. Soemadji, yang pernah jadi kasir perusahaan semasa Nitisemito masih hidup, tak kuasa lagi melanjutkannya. Kini, salah seorang cucu Nitisemito, yaitu putra Soemadji, yang bernama Zyaenal Arief, punya keinginan untuk bangkit lagi membuka usaha rokok dengan merek "Riadi". Usaha yang dirintis sejak setahun lalu itu berupa sigaret kretek lintingan tangan (SKT). "Hanya usaha rumah tangga, jangan dibandingkan dengan usaha Eyang," kata Zyaenal. Dan rumah, bekas pabrik milik Nitisemito di Kampung Jagalan, Kudus Kulon, kini dibiarkan sepi tak berpenghuni. Tapi, paling tidak, di kota itu ada jalan dengan nama Nitisemito. Joko Syahban

| | | Back | | |


Copyright by Agus Lilik Setiawan, September 2000
Contact webmaster : web_lesson@yahoo.com

 
Ruang Pertama
Apa kata mereka
Seputar Kota
Tajuk Berita
Ruang Kedua
Sejarah
Menara Kudus
Ciri Khas
Ruang Ketiga
Bisnis Dan Usaha
Layanan
Pariwisata
Ruang Keempat
Dunia Pendidikan
Ruang Lima
Daftar Alamat
Buku Tamu
Komentar Anda