Sejarah : Jejak Sang Wali dan Haramnya Daging Sapi 

 

Penulis dan Fotografer: Bloentank Poer 

Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, siapapun dengan mudah bisa menemukan jenang (makanan khas masyarakat setempat yang terbuat dari tepung beras ketan) dan pabrik rokok. Itulah mengapa kota ini populer dengan nama "Kota Jenang" dan "Kota Kretek". Berziarah ke Menara Kudus Namun, ada predikat lain yang membuat masyarakat Kudus bangga dengan kotanya, yakni "Kota Wali". Di kota inilah gerakan penyebaran Islam di Pulau Jawa oleh Wali Songo dimulai. 

Kota ini pula tempat tinggalnya dua wali terkemuka, Sunan Kudus dan Sunan Muria. Hingga kini, tapak-tapak sejarah dua ulama besar itu masih bisa kita jumpai di sudut-sudut kota tersebut. Di pusat Kota Kudus, tepatnya di kampung Kauman, masih bisa kita saksikan Masjid Al Aqsa atau Al Manar berdiri megah. Beberapa bangunan bercorak arsitektur Hindu yang dibangun sekitar tahun 956 Hijriyah (1549 Masehi) tegak di sekelilingnya. Kompleks masjid dan bangunan itulah yang populer dengan sebutan Menara Kudus itu.

Setiap hari, ratusan peziarah yang datang silih berganti dari berbagai daerah --baik di Jawa maupun luar Jawa, seperti Sumatra Kalimantan dan Sulawesi-- berkunjung kesana. Ada beberapa makam dalam kompleks itu, antara lain makam Sunan Kudus (bernama kecil Ja'far Shodiq) beserta para pangeran dan pengikutnya. Memasuki kompleks makam baik di siang atau malam hari, kita seperti berada di dalam masjid saja layaknya. Lantunan ayat-ayat suci Al Quran dan tahlil selalu berkumandang merdu dari para peziarah, terutama di sekeliling nisan makam Sunan Kudus yang terbungkus tirai putih. 

Untuk menjangkaunya, Anda bisa menempuh perjalanan darat sejauh 40 kilometer ke arah Timur dengan menumpang bus umum dari Terminal Terboyo, Semarang. Dengan merogoh kocek Rp 3.000, anda sudah sampai di makam itu. Kalau mau berombongan naik taksi (Kosti, Centris atau Atlas) dari Semarang, Anda harus rela mengeluarkan uang sejumlah Rp 60.000,-. Daging Sapi Haram? Satu hal unik yang belum tentu dijumpai di daerah-daerah lain, di Kota Kudus, jangan pernah anda berharap akan mendapatkan daging sapi. Lho? Memang, bagi orang Islam, sapi termasuk hewan yang dagingnya halal dimakan. Cuma, mengapa daging itu "diharamkan" di kota ini karena terkait dengan mitos dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus. 

Konon, untuk menyebarkan agama Islam di masyarakat Kudus, Sunan Kudus terhambat oleh masalah masyarakat yang taat memeluk agama Hindu dan Budha. Bagi Islam, sapi adalah hewan yang halal dimakan, tapi tidak demikian bagi umat Hindu yang menganggapnya sebagai hewan suci. Sunan lantas memakai cara unik. Dia kemudian mendatangkan hewan tersebut dari India untuk membuat mereka mau mendatangi rumahnya. Maka, masyarakat pun berduyun-duyun mendatanginya. Saat mereka berkumpul itulah, Sunan Kudus mengumumkan kepada para pengikutnya agar tidak melukai apalagi menyembelih hewan suci tersebut supaya tidak menyinggung keyakinan para penganut Hindu dan Budha. Singkat kata, masyarakat Hindu di daerah kekuasaan Majapahit itu mulai menaruh simpati pada gaya Sang Sunan yang berdakwah dengan cara damai dan manusiawi itu. 

Hal serupa juga dilakukan Sunan Kudus untuk menarik simpati sebagian masyarakat pemeluk agama Budha. Di sekitar masjid yang didirikannya, lantas dibangunlah delapan pancuran untuk berwudlu dan menempatkan arca di atasnya. Hal itu dilakukan dengan "mengadaptasi" keyakinan Budha akan "Delapan Jalan Kebenaran" atau Asta Sanghika Marga. 

Cungkup Makam Sunan Muria Tak jauh dari Menara Kudus, kita bisa melanjutkan perjalanan ke makam Sunan Muria, yang terletak di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke arah Utara dari Kota Kudus. Tepatnya, di desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dengan menumpang angkutan kota (station wagon) trayek Kudus-Colo, kita segera mendapati pintu gerbang menuju areal makam. Ongkosnya pun murah, cuma Rp. 2.500 sekali jalan. Kalau mau menyewa secara berombongan (maksimum 10 orang), Anda harus mengeluarkan ongkos Rp. 30.000,-. Dari tempat pemberhentian angkutan, Anda punya dua alternatif cara untuk mencapai makam putra Sunan Kalijogo yang bernama kecil Raden Umar Said itu. Anda bisa naik ojek dengan menyisir bukit bekas perkebunan kopi atau berjalan kaki menapaki jalan berundak sejauh hampir 1 kilometer. Bedanya, cuma ongkos ojek sebesar Rp. 2.500 sekali angkut. 

Kendati berada di kawasan pegunungan yang jauh dari kota, anda jangan khawatir handphone Anda akan kehilangan sinyal. Selain layanan Telkomsel, Excelcomindo pun masih bisa menjangkau kawasan itu dengan sinyal lumayan kuat. Selain Sunan Muria, beberapa kerabat dan pengikutnya juga turut dimakamkan di lereng gunung setinggi 1.602 meter itu. Seperti halnya makam Sunan Kudus, di kompleks makam yang menyatu dengan masjid itu juga selalu diramaikan dengan para peziarah, yang tentu saja selalu mengumandangkan tahlil di sepanjang waktu. 

Tak jauh berbeda dengan Sunan Kudus yang melakukan dakwah agama dengan pendekatan kebudayaan, Sunan Muria pun punya cara sendiri, yakni dengan mengembangkan seni pedalangan wayang kulit. Bila Sunan Kudus dikenal sebagai penyair dan filsuf, maka Sunan Muria pun pantas diberi sebutan sebagai seniman. Pasalnya, tembang Sinom dan Kinanthi merupakan salah satu hasil ciptaannya. Salah satu tembangnya yang populer dan sering dilantunkan para dalang dan seniman karawaitan di jaman sekarang adalah Sinom Parijotho. 

Parijotho adalah nama tumbuhan yang hidup di lereng Gunung Muria. Di sekitar makam tersebut, kita juga bisa menjumpai ornamen cungkup (rumah untuk makam) berukiran Kudus yang cukup eksotis. Berbeda dengan corak ukir Jepara atau Surakarta, ukiran gaya Kudus lebih rumit dan hidup. Di Jakarta, kita bisa menjumpai ukir Kudus pada bangunan gedung Bentara Budaya.

| | | Back | | |


Copyright by Agus Lilik Setiawan, September 2000
Contact webmaster : web_lesson@yahoo.com

 
Ruang Pertama
Apa kata mereka
Seputar Kota
Tajuk Berita
Ruang Kedua
Sejarah
Menara Kudus
Ciri Khas
Ruang Ketiga
Bisnis Dan Usaha
Layanan
Pariwisata
Ruang Keempat
Dunia Pendidikan
Ruang Lima
Daftar Alamat
Buku Tamu
Komentar Anda